PANGKALPINANG,LINESNEWS.CO.ID – Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, secara resmi membuka kegiatan Festival Semarak Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Pangkalpinang Edisi Kedua Tahun 2026. Acara pembukaan berlangsung pada Jumat (15/5/2026), dan dihadiri oleh para pelaku usaha kreatif, seniman, pelaku UMKM, serta masyarakat luas.
Dalam sambutannya, Prof. Saparudin memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini. Ia menyebut festival ini sebagai wujud nyata kreativitas masyarakat Pangkalpinang, khususnya para pegiat seni dan kreator yang terus berinovasi memajukan potensi daerah.

“Kegiatan kreatif ini digagas oleh masyarakat Pangkalpinang, khususnya para kreator di kota kita tercinta. Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia, pendukung, dan seluruh masyarakat kreatif yang telah berpartisipasi menampilkan karya dan produk terbaiknya di tempat ini selama tiga hari ke depan. Terima kasih juga kepada dinas terkait dan seluruh pelaku ekraf yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini,” ujar Prof. Saparudin memulai sambutannya.
Angkat Tema “Otak-Otak Pangkalpinang Terenak Sedunia”
Pada penyelenggaraan tahun kedua ini, Festival Semarak Ekraf mengusung fokus utama pada pengembangan kuliner khas daerah, yakni Otak-otak. Dengan mengusung tema “Otak-Otak Pangkalpinang Terenak Sedunia”, pemerintah kota menaruh harapan besar agar produk makanan berbahan dasar ikan ini bisa menembus pasar nasional hingga internasional, serta menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat.
“Khusus tahun ini, kita mengangkat satu produk kuliner unggulan khas Kota Pangkalpinang yang akan kita bawa ke seluruh penjuru Nusantara, yaitu Otak-otak Pangkalpinang. Kami berharap produk ini bisa dikenal luas hingga ke mancanegara. Saya juga mengajak teman-teman pelaku ekraf dan UMKM, untuk terus berkreasi, mengembangkan inovasi rasa, kemasan yang menarik, serta pemasaran digital yang baik, agar produk kita semakin laku dan dicari banyak orang,” tegasnya.

Menurut Saparudin, otak-otak bukan sekadar makanan biasa. Produk ini adalah representasi dari kearifan lokal dan kreativitas masyarakat. Melalui inovasi terus-menerus, otak-otak memiliki peluang sangat besar untuk menjadi produk unggulan yang mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan daya saing ekonomi, sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat luas.
“Otak-otak telah dikenal luas sebagai kuliner Nusantara yang digemari. Berbahan dasar ikan laut segar, makanan ini menjadi representasi kreativitas kita. Melalui inovasi rasa, kemasan, hingga pengembangan wisata kuliner, otak-otak bisa menjadi identitas baru dan branding promosi daerah yang mengangkat citra Pangkalpinang sebagai kota bisnis, jasa, perdagangan, sekaligus kota kuliner kreatif di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” tambahnya.
Selain bazar produk ekonomi kreatif yang menampilkan beragam karya mulai dari busana, kreasi anak muda, hingga teknologi informasi, rangkaian festival ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni dan budaya, pertunjukan Teater Batik Tikal di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, workshop kerajinan, serta Kopi Street Market.
Tinggalkan Ketergantungan Timah, Ekonomi Kreatif Jadi Solusi
Di bagian akhir sambutannya, Wali Kota menyampaikan pesan mendalam yang menjadi refleksi besar bagi masyarakat Pangkalpinang. Ia mengingatkan bahwa masa kejayaan sumber daya alam, khususnya timah, tidak bisa lagi dijadikan satu-satunya tumpuan hidup. Menurutnya, saat ini sedang terjadi perubahan besar dan tantangan berat ekonomi yang menuntut masyarakat untuk bergerak lebih kreatif.
“Kita harus sadar dan jujur, hari ini kita tidak lagi berada di masa yang sama seperti dulu. Kejayaan sumber daya alam, khususnya timah, tidak bisa lagi menjadi satu-satunya sandaran kita. Kita sedang berada di fase perubahan, bahkan bisa dikatakan ini adalah fase ujian berat,” ungkap Saparudin dengan nada serius.
Ia menyoroti bahwa di tengah tekanan ekonomi, pergeseran di berbagai sektor, serta semakin sempitnya peluang kerja konvensional, masyarakat tidak boleh pasif atau hanya menunggu bantuan. Di sinilah peran ekonomi kreatif menjadi sangat krusial sebagai jalan keluar dan solusi masa depan.
“Di tengah keterbatasan lapangan kerja konvensional, kita tidak bisa lagi hanya menunggu peluang datang menghampiri. Kita harus bergerak menciptakan peluang itu sendiri. Inilah titik balik kita. Ekonomi kreatif adalah jawaban dan langkah nyata kita untuk tetap bertahan dan terus maju. Pangkalpinang memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kota kreatif yang mandiri, dan festival ini adalah bukti keseriusan kita menuju arah itu,” pungkas Prof. Saparudin.yayuk/LN








