KSSK: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global, Pertumbuhan 2026 Diproyeksi 5,6–6,0%

JAKARTA, LINESNEWS.CO.ID — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menggelar Rapat Berkala III Tahun 2026 pada Selasa, 28 Juli 2026. Hasil asesmen menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan domestik tetap terjaga dengan baik sepanjang triwulan II 2026, meski tekanan eksternal kembali meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi, serta volatilitas pasar keuangan global.Selasa (4/8/26)

Ekonomi Global Melambat, Risiko Tetap Membayangi

Pertumbuhan ekonomi global diprakirakan mencapai 3,0% yoy pada 2026, sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah, terutama pasca-eskalasi hubungan AS–Iran, mengganggu lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas strategis, serta menaikkan tekanan inflasi global. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga memicu aliran modal keluar dari negara berkembang dan penguatan dolar AS.

Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh, Diproyeksi Tumbuh 5,6–6,0%

Perekonomian Indonesia terbukti tetap tangguh. Konsumsi rumah tangga tetap kuat didukung daya beli masyarakat dan perlindungan sosial. Investasi tumbuh tinggi berkat proyek hilirisasi dan infrastruktur, sementara belanja pemerintah juga berjalan optimal. PMI Manufaktur kembali meluas ke level 50,2 pada Juli 2026. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diprakirakan berada di kisaran 5,6–6,0% yoy.

Kinerja eksternal tetap sehat. Neraca perdagangan mencatat surplus USD3,58 miliar sepanjang Januari–Juni 2026. Aliran investasi portofolio asing masuk mencapai USD8,5 miliar pada triwulan II 2026. Rupiah menguat ke level Rp17.994 per dolar AS per 31 Juli 2026, dan cadangan devisa tetap aman di USD145,6 miliar setara 5,5 bulan impor.

Inflasi Terkendali dalam Sasaran

Inflasi IHK Juli 2026 tercatat 2,88% yoy, turun dari 3,34% bulan sebelumnya dan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Inflasi inti stabil di 2,76% yoy. Penurunan inflasi didorong turunnya harga pangan, sementara inflasi harga yang diatur pemerintah naik akibat kenaikan harga avtur. Inflasi diprakirakan tetap terkendali hingga akhir tahun.

Kinerja APBN Semakin Produktif

Hingga akhir triwulan II 2026:

– Pendapatan Negara: Rp1.459,4 triliun (+21,4% yoy)

– Penerimaan Perpajakan: Rp1.035,7 triliun (+24,6% yoy)

– Belanja Negara: Rp1.656,0 triliun (+17,8% yoy), meliputi Program Makan Bergizi Gratis, Bansos, infrastruktur, gaji ke-13, serta subsidi BBM dan listrik

– Pembiayaan Anggaran: Rp452,0 triliun, dikelola secara terukur

APBN berperan sebagai penyangga perekonomian, akselerator pembangunan, dan pelindung kelompok rentan.

Kebijakan BI: Suku Bunga Dinaikkan untuk Jaga Stabilitas

Bank Indonesia menaikkan BI-Rate bertahap dari 5,00% menjadi 5,75% pada Juni 2026 guna memperkuat stabilitas nilai tukar dan menahan inflasi. Pada Juli 2026, BI-Rate dipertahankan. Berbagai kebijakan pendukung juga diperluas: insentif investasi portofolio asing, pengelolaan likuiditas pasar uang, pendalaman pasar valas, serta pelonggaran kebijakan makroprudensial guna mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.

Pemerintah, BI, OJK, dan LPS terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan. Penyusunan peraturan turunan UU P2SK juga akan dipercepat dengan melibatkan pemangku kepentingan. Rapat berkala KSSK berikutnya dijadwalkan pada Oktober 2026.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *