JFX dan KBI Gelar Buka Puasa Bersama Pelaku Pasar Timah, Bahas Kenaikan Harga dan Pengembangan Instrumen Perdagangan

Jakarta Futures Exchange (JFX) bekerja sama dengan Kliring Berjangka Indonesia (KBI) menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama seluruh pelaku pasar fisik timah di Tsahang Resto, Pangkalpinang, Bangka Belitung. Acara ini tidak hanya menjadi momen kebersamaan, tetapi juga wadah untuk berbagi wawasan terkait dinamika pasar timah global dan upaya pengembangan industri di Indonesia.

PANGKALPINANG,LINESNEWS.CO.ID – Jakarta Futures Exchange (JFX) bekerja sama dengan Kliring Berjangka Indonesia (KBI) menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama seluruh pelaku pasar fisik timah di Tsahang Resto, Pangkalpinang, Bangka Belitung. Acara ini tidak hanya menjadi momen kebersamaan, tetapi juga wadah untuk berbagi wawasan terkait dinamika pasar timah global dan upaya pengembangan industri di Indonesia.

Dalam sesi wawancara usai acara, Direktur Utama JFX, Yazid Kanca Surya, membahas pergerakan harga timah yang mengalami kenaikan drastis akibat peristiwa penyerangan di berbagai wilayah. Kenaikan ini mengikuti tren harga emas, meskipun timah tidak dikategorikan sebagai logam mulia.

“Pergerakan harga logam-logam lainnya biasanya ikut naik secara bersamaan. Kenaikannya cukup signifikan, diperkirakan mencapai sekitar $10, dari kisaran 40-an dolar menjadi 50-an dolar,” ujar Kanca usai acara buka puasa bersama anak yatim, Kamis (5/3/2026).

Meskipun harga timah naik, Kanca menegaskan bahwa proses bisnis saat ini belum terganggu. Namun, ia juga mengingatkan potensi dampak negatif jika situasi geopolitik melebar.

“Jika konflik hanya terkonsentrasi di wilayah Timur Tengah, diprediksi tidak akan menjadi masalah besar. Namun, jika eskalasi perang terus berlanjut dan meluas, ada kemungkinan dampak negatif akan muncul di masa depan,” katanya.

Langkah antisipasi yang diambil JFX melihat arah pasar ekspor timah, yang sebagian besar menuju China. Saat ini, kondisi di China relatif aman, dan lokasi konflik di Timur Tengah berada di kawasan yang berbeda dengan Asia, sehingga dampaknya diprediksi tidak signifikan. Selain itu, meskipun Indonesia merupakan produsen timah nomor dua di dunia, kontribusinya secara volume hanya sekitar seperempat dari total produksi global.

Terkait prediksi harga timah ke depannya, Kanca menyatakan bahwa harga mungkin tidak akan melonjak terlalu tinggi secara ekstrem, namun kemungkinan akan bertahan di level yang tinggi atau bahkan bisa menjadi dua kali lipat jika eskalasi perang terus berlanjut.

Selain membahas dinamika pasar, Kanca juga mengungkapkan rencana JFX terkait instrumen perdagangan timah. Saat ini ada dua instrumen yang tersedia, namun ke depannya fokus akan diarahkan ke satu instrumen saja. Tujuannya adalah agar pelaku timah dapat melakukan lindung nilai (hedging) dan lebih spesifiknya menggunakan instrumen tersebut sebagai sarana penetapan harga (price fixing) untuk produk penjualan.

“Bagi smelter, biasanya jika ingin bertransaksi di bursa, ingot timah harus masuk ke gudang terlebih dahulu yang memakan waktu. Dengan instrumen baru ini, mereka bisa melakukan penetapan harga saat harga sedang tinggi sambil menunggu proses produksi selesai,” tambahnya.

“Begitu produk terrealisasi, mereka sudah memiliki patokan harga, dan margin keuntungan bisa diambil dari transaksi tersebut. Hal ini juga sangat baik dalam hal perpajakan, karena perbedaan antara harga yang ditetapkan sebelumnya dengan harga saat ini bisa dibuktikan melalui transaksi yang tercatat di bursa,” jelas Kanca.

Terkait keanggotaan, selain PT Timah sendiri, terdapat cukup banyak anggota aktif. Total anggota mencapai 40, dengan sekitar 20 hingga 23 di antaranya adalah smelter.

Acara buka puasa bersama ini merupakan kegiatan rutin JFX dan KBI, namun ada sedikit perbedaan dibandingkan tahun lalu. Jika tahun lalu lebih banyak mendatangi panti-panti asuhan, tahun ini mereka mengundang anak-anak panti ke lokasi acara agar bisa ikut berbuka puasa bersama, sehingga suasananya terasa lebih hangat dan akrab.

Kanca juga menekankan pentingnya kebersamaan antara JFX, KBI, pelaku timah, media, serta masyarakat Bangka untuk memajukan industri timah di Indonesia.

“Kolaborasi antar seluruh pemangku kepentingan di sektor pertimahan ini sangat penting agar ke depannya kita bisa terus berkembang,” katanya.

Acara ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kegiatan tahunan JFX dan KBI. Tahun lalu, di bulan Desember, mereka juga mengadakan acara di Bali yang berfokus pada proyeksi harga timah.

Kedepannya, terutama untuk tahun ini, mereka berencana membuat acara dengan intensitas yang lebih tinggi, menghadirkan pengamat ekonomi, dan lebih dekat dengan para pelaku pasar untuk mendengar langsung keluhan dan kendala yang mereka hadapi, sehingga kebijakan yang diambil selalu melibatkan aspirasi mereka.

“Semua ini kami lakukan dengan harapan adanya kesadaran dari seluruh pemangku kepentingan di industri timah untuk terus bergerak maju bersama,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *