Angka Stunting Naik Menjadi 24,6%, Bangka Selatan Perkuat Gerakan Bersama Cegah dan Turunkan Angka Stunting

TOBOALI, LINESNEWS.CO.ID — Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) terus memperkuat langkah percepatan penurunan angka stunting. Hal ini dilakukan melalui kegiatan Penggerakan Cegah Stunting yang diselenggarakan di Halaman Kantor Kelurahan Teladan, Kecamatan Toboali, Selasa (7/7/2026).

Kegiatan dibuka resmi oleh Kepala DKPPKB Kabupaten Bangka Selatan, dr. Agus Pranawa, yang juga menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut.

Dalam pemaparannya, dr. Agus menyampaikan data perkembangan kasus gizi di daerah ini. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting tercatat sebesar 20,7 persen. Namun pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka tersebut meningkat menjadi 24,6 persen.

Meskipun angka wasting atau balita kurus menunjukkan perbaikan — turun dari kisaran 10–14% pada Riskesdas 2013 menjadi 9,87% pada Riskesdas 2018 — kenaikan angka stunting menjadi perhatian utama yang butuh penanganan lebih intensif.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya percepatan penurunan stunting masih menjadi tantangan besar dan membutuhkan perhatian serta kerja sama dari seluruh pihak,” jelas dr. Agus.

Ia juga menegaskan bahwa pencegahan ini merupakan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang bertujuan meningkatkan mutu gizi melalui perbaikan pola makan, peningkatan kesadaran gizi, serta pelayanan kesehatan yang berkualitas.

dr. Agus mengingatkan kembali bahwa stunting bukan hanya masalah fisik berupa tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya. Lebih dari itu, ini adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berdampak jangka panjang.

“Stunting akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Anak yang mengalaminya berisiko mengalami hambatan kecerdasan, daya tahan tubuh menurun, hingga produktivitas yang berkurang saat dewasa nanti,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa pencegahan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan semata, melainkan harus melibatkan seluruh elemen: pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga keluarga sebagai lingkungan pertama tempat anak tumbuh.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Agus mengajak semua pihak menerapkan langkah-langkah berikut:

Memastikan ibu hamil rutin periksa kehamilan dan mengonsumsi makanan bergizi

Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan tambahan makanan pendamping ASI yang sehat

Memantau pertumbuhan balita secara rutin di Posyandu atau fasilitas kesehatan

Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, termasuk ketersediaan air bersih dan sanitasi layak

Mengedukasi keluarga tentang pola asuh dan pemenuhan gizi yang tepat

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tenaga kesehatan, kader Posyandu, Tim Penggerak PKK, serta pemerintah desa dan kelurahan yang telah mendampingi masyarakat selama ini.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 170 peserta, meliputi jajaran DKPPKB, kepala puskesmas se-kabupaten, tenaga gizi, bidan, kader Posyandu, Ketua TP PKK, Dharma Wanita, serta perwakilan pemerintah kecamatan, desa, dan kelurahan.

dr. Agus berharap kegiatan ini menjadi awal kolaborasi yang lebih kuat.

“Dengan sinergi yang terus dijaga, pemenuhan hak gizi anak sejak dini dapat terwujud. Harapannya target penurunan stunting bisa tercapai, sehingga lahir generasi Bangka Selatan yang sehat, tangguh, dan berdaya saing tinggi,” pungkasnya.

Tags: #CegahStunting #BangkaSelatan #GiziAnak #DKPPKB #KesehatanMasyarakat #Toboali

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *